"Keunggulan Manusia diukur dari Sumbangsih Pemikirannya"

Jumat, 13 Agustus 2010

Bawalaksana III


Suatu kisah yang saya ambil dari cerita pewayangan dari lakon Mahabharata kali ini lebih seru lagi, yang menurut kacamata kita sebagai manusia biasa penuh dengan intrik kemanusiaan , yang dalam keseharian hanya terjadi dilingkungan manusia yang mengagungkan nilai luhur kemanusiaan yang senantiasa menilai seseorang bisa dilihat dari ucapan yang dilontarkan dengan berlandaskan ajaran bahwa luwih "mandi guneme dewe" artinya apa yang diucapkan memiliki tuah yang ampuh sehingga yang diucapkan memiliki pengaruh untuk mengubah sesuatu atau istilah orang sakti memiliki tuah " laduni" yang dibicarakan menjadi kenyataan.Untuk menggali konsepsi bawalaksana atau konsep filsafat Jawa " Sabdo Pandhito Ratu tan keno wala wali".
Kali ini saya akan menceritakan kisah Bisma atau Dewa Brata yang melaksanakan bawalaksana yang lebih tragis , kita ambilkan dari cerita pewayangan Mahabharata. Dikisahkan pada waktu itu di kerajaan Wiratha sedang berlangsung sayembara pilih. Siapa yang berminat bisa mengikuti dan peserta yang terpilih oleh Dewi Durgandini ( Putri raja Wiratha) akan dijodohkan dengannya , menjadi menantu raja Wiratha.
Sebenarnya sayembara ini dimaksudkan sebagai sarana bagi Dewi Durgandini untuk meresmikan hubungannya dengan seorang kesatria sakti yakni Bambang Palasara yang pernah menyembuhkan Dewi Durgandini dari penyakit berbau amis (anyir) sehingga ia dijuluki sebagai Dewi lara Amis.
Telah disepakati oleh keduanya , bahwa dalam sayembara pilih itu Bambang Palasara akan muncul dengan menggendong anak bayi hasil hubungan mereka berdua . oleh karena itu pada saat Prabu Sentanu ( yang wajah dan penampilan mirip Bambang Palasara muncul di gelanggang sayembara menggendong bayi Dewa Brata , dengan serta merta Dewi Durgandini menjatuhkan pilihan kepadanya. Akan tetapi setelah peserta itu mendekat untuk memperoleh kalungan bunga ( tanda terpilih) , Dewi Durgandini terperanjat bukan main karena peserta itu ternyata bukan Bambang Palasara . Dan berbarengan dengan itu muncullah Bambang Palasara yang menggendong bayi anak mereka berdua yang diberi nama Bambang Abiyasa atau Wiyasa. Tetapi kata telah diucapkan dan sebagai putri raja yang baik Dewi Durgandini harus bawalaksana . Ia tak dapat menarik kembali kesanggupan untuk menjadi istri Prabu Sentanu, akan tetapi ia belum diboyong ke Astina dan mengajukan permintaan agar kelak ia dijemput oleh anak lakilaki yang dalam gendongan Prabu Sentanu itu . berarti Prabu Sentanu harus menunggu bertahun tahun lamanya.Demikian setelah Dewa Brata menginjak Dewasa , ia diutus ayahnya untuk menjemput Dewi Durgandini . Dan Dewi Durgandini yang pada dasarnya memang enggan menjadi istri Prabu Sentanu, mengajukan syarat kepada Dewa Brata ( Bisma) ia mau diboyong saat itu ke Astina asal Dewa Brata berjanji bahwa ia merelakan tahta kerajaan Astina kepada anak anak yang akan lahir dari Dewi Durgandini. Disini situasi yang dihadapi Bisma mirip dengan yang dihadapi Sri Rama . Bedanya adalah bahwa Rama telah terikat oleh janji yang pernah diucapkan ayahnya, sedangkan Dewa brata sebenarnya masih bebas , belum terikat janji apapun.Akan tetapi sebagai anak yang berbakti kepada orang tua dan itu memang salah satu nilai luhur yang dijunjung tinggi dalam budaya jawa yang terpateri dalam ungkapan " Mikul dhuwur mendhem Jero " ia merelakan haknya itu kepada Dewi Durgandini , bahkan atas desakan Dewi Durgandini untuk menjamin terlaksananya janji itu , Dewa Brata pun bersumpah untuk "wadad", yaitu tidak akan kawin selama hidupnya. Sungguh suatu pengorbanan yang luar biasa. dan sebagai satria utama ia memang konsekwen memenuhi sumpah dan janjinya itu, sampai suatu saat ia dipojokkan dalam suasana dilematik yang amat sulit.
Setela adik adik yang lahir dari Dewi Durgandini ( Yakni Citraganda dan Wicitrawirya) menjadi Dewasa , Dewa Brata yang amat sakti itu diutus untuk demi adiknya , mengikuti sayembara perang melawan Ditya Wahmuka dan Arimuka di kerajaan Giyantipura , dimana pemenangnya boleh memboyong ketiga putri raja tersebut , yakni Dewi Amba, Dewi Ambika dan Dewi Ambalika, akhirnya Dewa Brata keluar sebagai pemenang dan diboyonglah ketiga putri tersebut ke Astina untuk dijodohkan dengan adiknya.Akan tetapi Dewi Amba yang cantik jelita dalam perjalanan itu makin tertambat kepada Dewa Brata yang memang tampan dan gagah perkasa.
Dewi Amba mengingatkan bunyi sayembara yaitu bahwa pemenangnya dapat memboyong ketiga putri itu sebagai istrinya. Dewa Brata memenangkan sayembara itu , oleh karena nya Dewi Amba hanya mau diperistri oleh Dewa Brata , bukan oleh siapa siapa.
Dewa Brata sebenarnya dapat memahami alasan itu. disamping itu sebagai laki laki, ia pun sebenarnya tertarik kepada dewi Amba, akan tetapi ia berangkat dari Astina adalah memikul kesanggupan untuk mengikuti sayembara bagi adiknya. Ini adalah kesanggupan atau janji utamannya yang harus ditepati, akan tetapi bunyi sayembara itu pada hakekatnya memang juga suatu janji bahwa ketiga putri itu akan diperistri oleh pemenangnya , meskipun janji ini terasa lebih mengikat bagi penyelenggara ketimbang pesertanya. Oleh karena itu itulah Dewa Brata tetap menolak permintaan Dewi Amba untuk mengambilnya sebagai istri , meskipun semangat kelaki lakiannya berbicara lain. Suasana dan posisi yang dihadapi oleh Dewa Brata ini persih sama posisi yang dihadapi Begawan Wisrawa waktu memenangkan sayembara Dewi Sukesi dari Alengka hanya saja Dewa Brata lebih teguh dalam dan tetap tidak menyerah kepada Dewi Amba yang cantik, dan pada saat Dewi Amba mendesaknya , Dewa Brata terpaksa menakut nakuti dengan anak panah yang telah siap dibusurnya dan takdir telah menetukan ,bahwa anak panah tadi terlepas dari genggaman Dewa Brata yang gemetar dalam puncak keraguannya dan tamatlah riwayat Dewi Amba yang sangat mencintai dan juga dicintainya itu, yang arwahnya tetap sabar menanti untuk masuk ke surga bergandengan tangan dengan Dewa Brata , yang dijemputnya lewat tangan Srikandi dalam perang Bharata yuda.
Seumur hidup Dewa Brata yang kebetulan umurnya sangat panjang selalu dihantui oleh penyesalan dan penderitaan batin akibat terbunuhnya Dewi Amba yang tak berdosa dan sangat mencintainya itu Suasana dilematik yang membuahkan tragedi yang dialami Dewa Brata itu barangkali memang lebih sulit diatasi ketimbang yang dialami Sentanu ayahnya waktu menghadapi ulah Dewi Gangga. (diunggah kembali dari buku Ir Sujamto " Sabdha Pandito Ratu ";1997)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar