"Keunggulan Manusia diukur dari Sumbangsih Pemikirannya"

Selasa, 25 Mei 2010

Menjadi pemimpin yang dicintai Rakyat


Sebaik baiknya manusia adalah manusia yang sebesar besarnya berguna bagi orang lain ini sepenggal Hadist nabi Muhammad SAW, kita berusaha dengan sekuat tenaga mewujudkan keinginan itu, namun dalam perjalanannya ternyata untuk menjadi manusia yang baik sangatlah sulit.
Mengapa menjadi manusia baik sangat sulit ?, Ternyata untuk menjadi manusia yang baik dibutuhkan syarat dan kriteria yang jelas, karena dengan syarat dan kriteria yang jelas kebaikan manusia akan mudah diukur.
Manusia adalah ciptaan Allah SWT, dari proses kejadian menjadi manusia menurut ilmu biologi ternyata prosesnya tidak segampang yang kita pikirkan selama ini, ternyata melalui proses pertempuran sel sperma jantan sebanyak 250 Juta sel sperma untuk berusaha tetap hidup melayang layang menuju uterus sehingga bisa bertemu dengan sel betina, ternyata hanya hidup satu yaitu jadi manusia kecil alias bayi dalam kandungan sebagai bibit manusia, sehingga setelah dijadikan manusia seyogyanya kita tahu diri bahwa kita ditakdirkan sebagai pemenang atau pemimpin minmal untuk diri sendiri.
Banyak manusia yang menjalankan kehidupannya tanpa dituntun kearah kebaikan, hal ini ditandai dengan banyaknya manusia yang ingin menang sendiri dalam setiap kesempatan, merasa benar sendiri dalam setiap masalah, merasa jujur sendiri dalam setiap kasus, merasa pintar sendiri dalamsetiap diskusi atau pembicaraa, merasa paling kuat dalam setiap ada tantangan, merasa paling kaya jika ada kesempatan untuk pamer, merasa paling miskin jika ada kesempatan untuk meminta dan bentuk bentuk penampakan topeng kehidupan.
Sudah bukan menjadi rahasia lagi jika manusia senang kemewahan dan kekayaan, sehingga dengan berbagai cara manusia ingin menjadi kaya walaupun dengan cara yang tidak wajar, sehingga manusia mau menjadi budak setan, dengan melakukan berbuatan yang dikatagorikan sebagai perbuatan maksiat, namun manusia mau juga melakukan asalkan keinginannya terlaksana, sangat disayangkan hal demikian bisa terjadi, padahal kita hidup sudah ada pegangannya yaitu Kitab Allah dan hadist nabi jika beragama Islam atau kitab kitab lain selain agama Islam, namun kenyataanya tuntunan hanya tuntunan mereka rela melakukan perbuatan yang melanggar norma agama karena bisikan setan belaka.
Kembali kemasalah kriteria menjadi manusia yang baik itu seperti apa? , manusia yang baik adalah manusia yang menjalankan proses kehidupannya secara teratur, menjalankan proses kehidupannya sesuai titah Allah, yaitu sabar dan tawakal jika sedang mengalami masalah, semua masalah dikembalikan kepada yang maha memberi jalan keluar, jika bertingkah laku maka tetap menjaga norma sopan santun dan tepo seliro artinya setiap tindak tanduknya tetap menjaga perasaan orang lain, sehingga setiap orang yang diajak berkomunikasi dan bersilaturahmi mereka menganggap sebagai saudara sehingga akan merasa kehilangan jika jauh dari tatap mata kita, orang model seperti ini akan dirindukan keberadaanya, karena semua yang diutarakan merupakan solusi bagi orang lain.
Manusia dijadikan oleh Allah sebagai Khalifaf dimuka bumi ini, menjadi pemimpin namun ada persyaratan jika menjadi pemimpin, menurut filsafat Jawa, bahwa untuk menjadi pemimpin itu ada istilah pulung berupa wahyu atau ndaru artinya siapa yang mau menjadi pemimpin harus ada wahyu,pulung atau ndaru tadi.Dalam pewayangan , lakon yang menceritakan pulung kepemimpinan dilukiskan dengan memperoleh wahyu cakraningrat . Siapa saja yang memperoleh wahyu cakraningrat , maka dia dan keturunannya akan berhak menduduki tahta kepemimpinan. Tiga pangeran putra mahkota dalam pewayangan yaitu Lesmana dari Hastina,Samba dari Dwarawati , dan Abimanyu dari Amarta bersaing sengit dalam memperebutkan "Wahyu cakraningrat" agar tergenggam di tangannya. Karena Lesmana dan Sambatidak kuat menerima cobaan berupa wanita cantik, maka hanya Abimanyu yang kemudian berhasil memperolehnya. Akhirnya hanya Abimanyu yang bisa menurunkan raja di Hastina , yaitu Prabu Parikesit.
Orang Jawa suka dengan referensi kepemimpinan menurut Lakon Wahyu Makutharama. lakon ini menyuratkan kepemimpinan sosial yang terkenal dengan istilah Astabrata , yang berarti delapan prinsip :
1. Laku Hambeging Kisma
Maknanya seorang pemimpin yang selalu berbelas kasih dengan siapa saja. Kisma berarti tanah, tanah tidak memperdulikan siapa yang menginjaknya. semua dikasihani. Tanah selalu memperlihatkan Jasanya, walupun dicangkul, diinjak, dipupuk , dibajak tetapi malah memberi subur dan menumbuhkan tanaman. Filsafat tanah adalah air tuba dibalas air susu. Keburukan dibalas dengan kebaikan.
2. Laku Hambeging Tirta
maknanya seorang pemimpin harus adil seperti air yang selalu rata permukannya. KEadilan yangditegakkan bisa memberi kecerahan ibarat air yang membersihakan kotoran . air tidak pernah emban oyot emban cindhe " pilih kasih".
3. Laku hambeging dahana
Maknanyaseorang pemimpin harus tegas seperti api yang sedang membakar. namun pertimbangannya berdasarkan akal sehat yang bisa dipertanggung jawabkan sehingga tidak membawa kerusakan di muka bumi.
4. Laku Hambeging Samirana
Maknanya seorang pemimpin harus berjiwa teliti dimana saja berada. baik buruk rakyat harus diketahui oleh mata kepala sendiri, tanpa menggantungkan laporan dari bawahan saja. Bawahan cenderung selektif dalam memberi informasi untuk berusaha menyenangkan pimpinan.
5. Laku hambeging Samodra
maknanya seorang pemimpin harus mempunyai sifat pemaaf sebagaimana samudra raya yang siap menampung apa saja yang hanyut dari daratan.Jiwa samudra mencerminkan pendukung pluralisme dalam hidup bermasyarakatyang berkarakter majemuk.
6. Laku Hambeging Surya
Maknanya seorang pemimpin harus memberi inspirasi pada bawahan ibarat matahari yang selalau menyionari bumi dan memberi energi pada setiap makhluk.
7. Laku Hambeging candra
Maknanya seorang pemimpin harus memberi penerangan yang menyejukkan seperti bulan bersinar terang benderang namun tidak panas. bahkan terang bulan tampak indah sekali . Orangdesa menyebutnya purnama Sidi
8. Laku Hambeging Kartika
Maknanya seorang pemimpin harus tetap percaya diri meskipun dalam dirinya ada kekurangan . Ibarat bintangbintang di langit angkas, walaupun ia sangat kecil tapidengan optimis memancarkan cahayanya , sebagai sumbangan buat kehidupan.
ajaran jawa Asta brata memberikan kesadaran kosmis bahaw dunia dengan segala isinya m,engandung pelajaran bagi manusia yang mau merenung dan menelitinya. Norma kepemimpinan jawa dikenal dengan ungkapan Sabda pandita ratu tan kena wola wali, maksudnya seorang pemimpin harus konsekwen untuk melaksanakan dan wewujudkan apa yang telah dikatakan. Masyarakat desa menyebutnya sebagai orang yang bersifat berbudi bawa leksana yaitu teguh berpegang janjinya.
Kita seharusnya selalu bersyukur kepada Allah SWT dengan menjalankan pola kehidupan yang teratur dengan tidak melanggar aturan Allah, dan jika kita sebagai pemimpin haruslah bertindak dengan pola perilaku pemimpin yang baik, sehingga proses menjadi pemimpin dalam waktu lama karena senantisa dalam lindungan Allah dan jika pada saatnya nanti sudajh tidak jadi pemimpin masih saja ada yang mengelu lukan kita yang artinya saat kita menjadi pemimpin kita dinilai Adil dan bijaksana serta trampil dan disenangi anak buahnya.... semoga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar