"Keunggulan Manusia diukur dari Sumbangsih Pemikirannya"

Rabu, 17 Maret 2010

Pemimpin yang disenangi rakyat

Judul diatas sebenarnya sederhana namun punya makna yang unggul , karena kalau kita mau mencermati keadaan sekarang ini , masyarakat sedang mencari sosok yang mempunyai kriteria diatas kok sulit , seperti mencari butir mutiara di tengah samudra . aneh nian negeri kita ini , modal dasar pembangunannya sungguh besar terdiri dari SDM , Alam , negara yang luas dan posisi yang sangat strategis diapit dua samudra dan 2 benua namun untuk mencari pemimpin yang betul betul disenangi rakyat masih sulit , disana sini masih saja ada masyarakat yang melecehkan pemimpinnya , wah kita harusnya bangga ada pemimpin yang hidupnya sudah kaya namun masih mau menerima amanah dari rakyat , oleh karena itu apa saja yang menyebabkan mereka menjadi tidak puas sehingga mereka melakukan tindakan anarkis ..... marilah kita carikan solusi yang tepat. Dalam kasanah budaya Jawa kita mengenal istilah Ojo Dumeh , mari kita lihat makna Ojo dumeh ini untuk mengukur sampai seberapa jauh makna ojo dumeh sudah kita gunakan sebagai salah satu alat ukur perjalanan hidup kita .Setelah kita analisa ternyata makna Ojo dumeh artinya adalah siapa saja yang disebut manusia maka haruslah berlaku Sopan , Santun, tahu diri , dan bersikap profesional dengan tolok ukur sareh ing panuntun artinya walaupun dia melakukan sikap profesional namun tetap menjunjung tinggi mikul duwur mendem jero , tetap menghormati leluhur atau siapa saja yang sudah sepuh karena kalau sudah sepuh berarti lebih banyak asam garam kehidupan .Kehidupan modern sekarang menjadikan urgensi sebagai manusia telah berubah , mereka hanya memikirkan dirinya dan kebutuhan dirinya namun walaupun dalam jumlah sedikit masih ada yang juga memikirkan orang lain. Kembali ke masalah Ojo dumeh tadi , untuk menjadi manusia yang menjalankan konsep Ojo Dumeh maka kita harus melaksanakan kegiatan kemanusiannya dengan prinsip memanusiakan manusia , karena hakekat manusia yang baik menurut Kanjeng Nabi Muhammad SAW , adalah yang sebesar besarnya bermanfaat bagi orang lain artinya yang menghormati keberadaan orang lain, sehingga keberadaan kita hendaknya ditunggu orang lain , artinya kita dibutuhkan orang lain , dipercaya orang lain , kita dianggap sebagai penolong orang lain , sehingga kita bernilai dimata mereka , nah setelah kita dianggap bernilai maka konsep Ojo dumeh baru kita gunakan sebaik baiknya , kita harus tahu diri bahwa kita tidak bisa hidup sendiri tapi harus berlaku tolong menolong sehingga kita harus jadi manusia yang dermawan , kita juga harus berlaku jadi orang yang sareh dalam pemikiran tidak grusa grusu dalam mengambil tindakan yang berhubungan dengan nasib,kita juga tahu diri bahwa kekayaan yang kita miliki adalah pinjaman sementara dari gusti Allah yang sewaktu waktu diminta kembali makanya kalau kita kaya jangan sombong , kalau kita pinter dalam bidang tertentu haruslah diamalkan bagi orang lain karena ilmu yang baik haruslah disebarluaskan bagi masyarakat , agar masyarakat lebih beradap dan santun, kalau kita dipercaya oleh masyarakat maka pandai pandailah amanah itu dipegang dengan penuh tanggung jawab dan melaksanakan amanah dengan sebaik baiknya tanpa melanggar norma yang ada , kalau kita kedatangan tamu juga harus menghormati tamu seperti apa yang dikatakan Kanjeng Nabi Muhammad SAW , bahwa memuliakan tamu adalah hukumnya wajib bagi seorang muslim sampai tamunya merasa dimanusiakan dan dimulyakan ,kalau menyangkut sikap haruslah tegas yang benar bilang benar yang salah juga bilang salah , nah dengan ciri ciri manusia yang memiliki konsep Ojo Dumeh tersebut maka mudah bagi kita untuk mencari sosok manusia yang pantas kita jadikan pemimpin bagi kita karena ditangan pemimpin seperti inilah negara kita akan kembali jaya dan masyarakat akan sepenuh hati mendukungnya karena ditangan pemimpin seperti inilah , dapat diharapkan kepemimpinannya

Semua pakerjaan Mulia , semua atas ijin Allah SWT

"Ojo age age siro kepingin nandangi pakaryan gede, utowo ngarep ngarep tekane pakaryan gede, amarga pakaryan gede iku arang tekane, kang kerep siro sandung iku pakaryan kang cilik cilik , siro aja ngremehake marang pakaryan kang cilik cilik iku, sebab yen siro durung kulino nandangi pakaryan kang gampang , kapriye anggoniro bakal biso nandangi pakaryan angel . Mulane samubarang kang tinemu ing tanganiro , lakonono kalawan temen temen ing ati suci , atasna awit karsaning Gusti , amargo ora ono pakaryan ing donya iki kang ora atas saka karsaning Pangeran , nandyan kang katone remeh pisan "
Dari Sesareh Jawa diatas banyak makna yang bisa dipetik sebagai benteng hati , kita menyadari bahwa sebagai manusia biasa kita sering terjebak dengan pemikiran bahwa kita harus mengerjakan pekerjaan yang besar atau bernilai besar , baik diukur dengan nilai materi ataupun wilayah yang dijangkau , kita lupa bahwa pekerjaan yang sudah ada seharusnya tetap dikerjakan dengan koridor ketaqwaan yaitu harus serius , dikerjakan dengan sungguh sungguh penuh pengabdian serta profesional artinya layak dihargai , akan tetapi kenyataan yang ada kita bekerja hanya sesuai dengan kehendak hati saja tanpa rasa tanggung jawab sedikitpun , artinya kita bekerja tidak berorientasi pada produktifitas atau prestasi namun seringkali hanya menghabiskan waktu saja , seringkali kita hanya melaksanakan pekerjaan tanpa target yang jelas , kita hanya melaksanakan tugas apabila orang lain memperhatikan tugas kita , orang lain mencurigai kita , maka kita segera bekerja seolah olah bekerja dengan sepenuh hati , tapi jika orang lain tidak memperhatikan kita,kita kembali bekerja seenaknya sendiri .
Kalau kita bekerja model seperti itu maka tunggu saja akibat yang timbul , karena nantinya akan menemui hal sbb:
1. Tidak dipercaya lagi mengerjakan tugas
2. Tidak diserahi pekerjaan yang levelnya lebih tinggi
3. Tidak akan menerima penghargaan sebagai karyawan teladan
4. Tidak akan memperoleh bonus gaji / bonus kesejahteraan
5. Tidak diberi kesempatan studi lanjut / belajar lagi
6. Tidak diberi kesempatan studi banding ........
dan tidak tidak yang lain karena kesejahteraan munculnya hanya dari prestasi kerja , artinya dimanapun berada prestasi akan diikuti oleh kontra prestasi artinya rejeki / kesejahteraan , artinya mau rejekinya banyak / kesejahteraannya banyak ya dengan berprestasi , tanpa prestasi niscaya jauh dari rejeki , oleh karena itu walaupun kita bekerja di level rendahan jika ingin memperoleh rejeki yang baik maka haruslah dengan diiringi prestasi sehingga atasan kita melihat bahwa kita adalah pekerja yang berprestasi , karena penghargaan akan datang pada orang orang yang meraih prestasi , walupun jenjang pekerjaannya di level rendahan , coba kalau anda percaya , bekerja sungguh sungguh dilevel yang anda sandang sekarang dan ingat kerja yang baik , profesional , penuh syukur , tunggu 3 bulan kedepan apa yang anda raih pasti tidak percaya bahwa anda layak dapat penghargaan ......, semua pekerjaan datangnya dari Allah SWT maka harus dikerjakan dengan sungguh sungguh dan disyukuri pasti akan memperoleh barokah dari yang diatas .... Semoga !

Senin, 08 Maret 2010

Ketenangan hati bagi mereka yang ikhlas ......

Kunci Ketenangan Batin

“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan
(kesusahan)” (QS ath-Thalaq [65]:7)

Tidak ada penderitaan dalam hidup ini, kecuali orang yang membuat
dirinya sendiri menderita.Tidak ada kesulitan sebesar dan seberat apa pun di dunia ini, kecuali hasil dari
buah pikirannya sendiri. Terserah kita, mau dibawa ke mana kehidupan
ini. Mau dibawa sulit, niscaya segalanya akan menjadi sulit. Jika kita
memilih jalan ini, maka silahkan, persulit saja pikiran ini. Mau
dibawa rumit pastilah hidup ini akan senantiasa terasa rumit.
Perumitlah terus pikiran kita bila memang jalan ini yang paling
disukai. Toh, semua akan tampak hasilnya dan, tidak bisa tidak, hanya
kita sendiri yang harus merasakan dan menaggung akibatnya.

Akan tetapi, sekiranya kehidupan yang terasa sempit menghimpit hendak
dibuat menjadi lapang, segala yang tampak rumit berbelit hendaknya
dibuat menjadi sederhana, dan segala yang kelihatannya buram, kelabu,
bahkan pekat gulita, hendaknya dibuat menjadi bening dan terang
benderang, maka cobalah rasakan dampaknya.

Ternyata dunia ini tidak lagi tampak mengkerut, sempit menghimpit, dan
carut marut. Memandang kehidupan ini terasa seperti berdiri di puncak
menara lalu menatap langit biru nan luas membentang bertaburkan
bintang gemintang, dengan semburat cahaya rembulan yang lembut
menebar, menjadikan segalanya tampak lebih indah, lebih lapang, dan
amat mengesankan. Allahu Akbar!

Memang,
“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun,
tetapi manusia itulah yang berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri”
(QS Yunus [11]:44).

Padahal Dia telah tegas-tegas memberikan jaminan melalui firman-Nya,
“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan
(kesusahan)” (QS ath-Thalaq [65]:7).

Kendalikan Suasana Hati
Kuncinya ternyata terletak pada keterampilan kita dalam mengendalikan
suasana hati. Bagaimana caranya? Salah satu cara yang paling efektif
adalah, manakala berhubungan dengan sesama manusia, jangan sekali-kali
kita sibuk mengingat-ingat kata-katanya yang pernah terdengar
menyakitkan. Jangan pula kita sibuk membayangkan raut mukanya yang
sedang marah dan sinis, yang pernah dilakukannya di hari-hari yang
telah lalu.

Begitu hati dan pikiran kita mulai tergelincir ke dalam perasaan
seperti itu, cepat-cepatlah kendalikan. Segera, alihkan suasana hati
ini dengan cara mengenang segala kebaikan yang pernah dilakukannya
terhadap kita, sekecil apa pun. Ingat-ingatlah ketika ia pernah
tersenyum kepada kita. Kenaglah jabat tangannya yang begitu tulus atau
rangkulannya yang begitu penuh persahabatan. Atau, bukankah tempo hari
ia pernah menawarkan untuk
mengantarkan kita pulang dengan motornya ketika kita tengah berdiri
meninggu bis kota?

Pendek kata, ingat-ingatlah hanya hal-hal yang baik-baiknya saja, yang
dulu pernah ia lakukan, seraya memupus sama sekali dari memori pikiran
kita segala keburukan yang mungkin pernah ia perbuat.

Allah Azza wa Jalla sungguh Maha Kuasa membolak-balikkan hati
hamba-hamba-Nya. Kita akan kaget sendiri ketika mendapati hasilnya.
Betapa cepatnya hal ini berubah justru sesudah kita berjuang untuk
mengubah segala sesuatu yang buruk menjadi tampak baik.

Bertambah dewasa ternyata tidak cukup hanya dengan bertambahnya umur,
ilmu, ataupun pangkat dan kedudukan. Kita bertambah dewasa justru
ketika mampu mengenali hati dan mengendalikannya dengan baik. Inilah
sesungguhnya kunci bagi terkuaknya ketenangan batin.

Suatu ketika kita dilanda asmara, misalnya. Kalaulah tidak pernah mau
bertanya kepada diri sendiri, maka akan habislah kita diterjang oleh
gelinjang hawa nafsu. Demikian juga kalau kita sedang diliputi gejolak
amarah. Sekiranya tidak pernah mau mengendalikan hati, akan celakalah
kita dibuatnya karena akan menjadi orang yang berlaku aniaya terhadap
orang lain.

Oleh sebab itu, kita harus benar-benar memiliki waktu dan kesungguhan
untuk bisa memperhatikan segala gerak-gerik dan perilaku hati ini.
Jangan-jangan kita sudah tergelincir menjadi sombong tanpa kita
sadari. Jangan-jangan kita sudah memusnahkan pahala amal-amal yang
pernah dilakukan tanpa kita sadari. Jangan-jangan kita sudah termasuk
orang yang gemar berlaku zalim terhadap orang lain tanpa kita sadari.
Apabila ini terjadi, maka apalagi kekayaan yang bisa menjadi bekal
kepulangan kita ke akhirat nanti? Bukankah segala amal yang kita
perbuat itu-adakah ia tergolong amal salih atau amal salah-justru
tergantung pada kalbu ini?

Kita pergi berjuang, berperang melawan keangkaramurkaan, berkuah peluh
bersimbah darah. Tetapi, sepanjang bertempur hati menjadi riya, ingin
dipuji dan disebut pahlawan;tidakkah disadari bahwa amalan seperti ini
di sisi Allah kering nilainya, tidak ada harganya sama sekali?

Menjadi mubaligh, berceramah menyampaikan ajaran Islam. Didengar oleh
ratusan bahkan ribuan orang. Pergi jauh ke berbagai tempat,
menghabiskan sekian banyak waktu dan menguras tenaga serta pikiran.
Namun, sama sekali tidak akan ada harganya di sisi Allah kalau hati
tidak ikhlas. Sekadar ingin dipuji dan dihormati, sehingga merasa diri
paling mulia, atau bahkan lebih fatal lagi, karena motivasi sekadar
untuk mendapat imbalan.

Berangkat haji, memakan waktu berpuluh hari dan menempuh jarak beribu
kilometer. Tubuh pun terpanggang matahari yang membakar dan
berdesak-desakan dengan berjuta-juta manusia. Tetapi, kalau tidak
disertai niat karena Allah, sekadar ingin dipuji karena mendapat
embel-embel titel haji, maka na’udzubillah, semua ini sama sekali
tidak berharga di sisi Allah.

Mengapa pekerjaan yang telah ditebus dengan pengorbanan sedemikian
besar malah membuahkan kesia-siaan? Ternyata sebab-musababnnya
berpangkal pada kelalaian dan ketidakmampuan mengendalikan suasana
hati. Sebab, sekali seseorang beramal disertai riya, ujub, atau sum’ah
(sekadar mencari popularitas) , maka tidak bisa tidak, pikirannya
hanya akan disibukkan oleh persoalan tentang bagaimana caranya agar
manusia datang memujinya. Begitu pujian itu tidak datang, sertamerta
hati pun dilanda sengsara. Bila sudah begini, kapankah lagi dapat
diperoleh ketentraman hidup, selain sebaliknya, hari-harinya akan
senantiasa digelayuti perasaan resah, gelisah, kecewa, dan sengsara?

Niat yang Ikhlas
Oleh karena itu, sekiranya kita belum mampu melakukan amal-amal yang
besar, tidakkah lebih baik memelihara amal-amal yang mungkin tampak
kecil dan sepele dengan cara terus-menerus menyempurnakan dan
memelihara niat agar senantiasa ikhlas dan benar? Inilah yang justru
akan dapat membuahkan ketenangan batin, sehingga insya Allah akan
membuahkan pula suasana kehidupan yang sejuk, lapang, indah dan
mengesankan.

Mudah-mudahan dengan kesanggupan kita menyempurnakan dan memelihara
keikhlasan niat di hati tatkala mengerjakan amal-amal yang kecil
tersebut, suatu saat Allah Azza wa Jalla berkenan mengkaruniakan
kesanggupan untuk mampu ikhlas manakala datang masanya kita harus
mengerjakan amal-amal yang lebih besar.

Besar atau kecil suatu amalan yang dikerjakan dalam hidup ini,
sekiranya didasari hati yang ikhlas seraya diiringi niat dan cara yang
benar, niscaya akan melahirkan sikap ihsan. Yakni, kita akan selalu
merasakan kehadiran Allah dalam setiap gerak-gerik, sehingga dalam
setiap denyut nadi ini, kita akan selalu teringat kepada-Nya.

Inilah suatu kondisi yang akan membuat hati selalu merasakan kesejukan
dan ketentraman.
“Alaa bi dzikrillaahii tathma ‘inul qulub” (QS ar-Ra’d[13]: 28),
demikian Allah telah memberikan jaminan. Ingat, hanya dengan mengingat
Allah-lah hati menjadi tentram!

Demi Allah tidak ada pilihan lain. Kita harus senantiasa mewaspadai
hati ini. Jangan sampai diam-diam membinasakan diri justru tanpa kita
sadari. Sudah pahala yang didapat sedikit, hati pun tak bisa
terkendalikan, sehingga semakin rusaklah nilai amal-amal kita dari
waktu ke waktu. Na’udzubillaah!

Dengan demikian, selain kita terbiasa mandi untuk membersihkan jasad
lahir, kita pun harus memiliki kesibukan untuk “memandikan” hati ini.
Selain kita makan untuk mengenyangkan perut, kita pun harus
“menyantap” sesuatu yang dapat membuat hati ini terisi. Selain kita
berdandan untuk merapikan penampilan, kita pun harus sibuk “bersolek”
merapikan hati kita. Dan selain kita rajin becermin untuk memperelok
wajah, kita pun jangan lupa untuk rajin-rajin pula “becermin” untuk
memperelok hati.

Semua ini tiada lain agar kita memiliki kemampuan untuk senatiasa
menyelisik niat maupun perilaku buruk dan busuk yang, disadari ataupun
tidak, mungkin pernah kita perbuat. Itu akan lebih menolong daripada
kita sibuk mengintip-intip keburukan orang lain, yang berarti hanya
menipu diri sendiri belaka dan sama sekali tidak akan mendatangkan
ketenangan batin. Wallahu a’lam![]

(Nawwira Kifliyah/Kunto W; Sumber : Buku Meredam Gelisah Hati, MQS. )

Minggu, 07 Maret 2010

Jadilah Manusia yang santun InsyAllah diridhoi......

Allah maha Rohman dan Rokhim , banyak pelajaran yang bisa diraih, pengalaman penulis membuktikan , kalau kita berbaik baik sama sesama insyaAllah apa yang menjadi kesulitan kita segera dapat jalan keluar , entah apa yang menjadikan demikian yang jelas penulis sangat Yakin bahwa Allah SWT tidak pernah Tidur untuk Hambanya yang beriman , syaratnya adalah yakin bahwa Allah beserta kita tanpa adanya keyakinan maka semua percuma saja .Ustad Muh Mansyur benar dengan Shodaqoh bisa mengatasi masalah caranya ya harus yakin , sekarang tergantung anda semua mau yakin atau tidak ? , karena setiap hari kita disertai kesulitan tanpa kesulitan niscaya kita menjadi orang tidak tahan uji , setiap mau naik kelas pasti ada ujiannya , maka anggap semua kesulitan adalah ujian untuk berhasil dalam hidup ini , jangan gampang menyerah terhadap kesulitan yang menghadang tapi kita harus tawadhu kepada Allah SWT , bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan itu janji Allah , sehingga kita menapak kehidupan dengan pasti tanpa keraguan sedikitpun , mari kita berlomba mencapai fastabiqul Khoirot , agar hidup penuh makna , kita tidak boleh menyerah terhadap kesulitan yang menghadang , hidup tanpa cobaan dan ujian tidak lah lengkap , maka kita harus Ridho terhadap ujian dan cobaan yang ada , sehingga dogolongkan manusia yang Ikhlas melaksanakan kehidupan , kita hanya membutuhkan semangat dan keihklasan Semata dengan menetapkan perencanaan hidup dan strategi hidup yang realistis dan obyektif dalam memandang suatu permasalahan kehidupan , sehingga kita selamat mencapai tujuan akhir kehidupan yaitu jadi manusia yang baik yang sebaik baiknya berguba bagi orang lain atau pihak lain , karena esensi kehidupan kita adalah apa yang telah diberikan kepada orang lain / pihak lain , investasi kita yang sesungguhnya adalah yang telah diberikan kepada pihak lain , dihibahkan kepada orang lain /pihak lain bukan yang ditinggalkan kepada Anak dan Istri kita , kita menjadi manusia yang komplit artinya ya berpikir untuk keluarga , saudara dan tetangga , jangan hanya memikirkan keluarga saja , jadilah orang yang tahu diri , karena nilai sesungguhnya adalah apa yang telah diberikan kepada orang lain, kita bernilai karena orang lain yang bicara kalau kita baik , benar dan santun , Allah senang dengan Orang yang Santun ...... Ridho Allah akan datang pada orang yang santun , semoga kita dogolongkan pada orang yang santun dan selalu mawas diri .... Amin

Sabtu, 06 Maret 2010

Cara membuat racun rumput ala Mr Singkong

RESEP 5in1 (Five in One) alias GUS BenSol


Resep ini bisa saja diberi nama Racun Rumput FiO, atau Racun Rumput GUS BenSol. FiO artinya Five in One, sedangkan Gus Bensol maksudnya Garam Urea Sabun serbuk Bensin dan Solar. Mungkin nama yang enak didengar adalah Racun Rumput GUS BenSol, biar keren dan mudah terkenal. Bagaimana?

Bahan-bahan yang diperlukan :
1. Bensin 1 liter
2. Solar 1 liter
3. Garam 1 kg
4. Urea 1 kg
5. Sabun Serbuk 1 kg

Cara membuat :
1. Semua bahan-bahan di campur satu persatu, mulai dari bensin dan solar dalam satu wadah.
2. Pada wadah yang lain kemudian garam dan urea serta sabun serbuk dicampur.
3. Wadah satu yang berisi campuran bensin dan solar dicampurkan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk-aduk dituangkan pada wadah kedua yang berisi campuran garam, urea dan sabun serbuk.
4. Pengadukan dilakukan terus-menerus sampai campuran tadi menjadi larutan yang menyatu.
5. Bahan racun rumput (FiO) Five in One alias GUS Bensol siap digunakan. Simpanlah pada wadah yang aman dan tertutup jauhkan dan hindarkan dari nyala api, karena bahan ini mudah terbakar.

Cara Penggunaan :
Cara penggunaan sama dengan penggunaan racun rumput lainnya. Yaitu kalau kita ingin menyemprot dengan pompa sprayer berisi 15 liter air campurkan sekitar 50 cc obat racun rumput FiO Gus Bensol ini. Kalau dirasa kurang hebat ditambah sedikit dosisnya juga bisa sampai sekitar 200 cc (atau satu gelas wadah aqua) dalam tangki sprayer 15 liter (ada juga tangki yang 16 sampai 18 liter).

Tip Menanam tanaman Agar Hidup

Seringkali kita kita ingin menanam tananam tapi tidak bisa hidup , apa yang salah ? , ini tip mudah yang harus dilakukan :
1. Semua tanaman dapat hidup jika unsur media dalam keadaan normal Ph 5 sampai 7 , untuk ngeceknya , beli kertas lakmus ditoko pertanian ,baca aturan pakainya , daun tanaman yangmau ditanam dicoba diambil satu remas remas terus dicampur air , kertas lakmus dimasukan nanti akan menunjukan Ph daun , jika Ph media sama dengan Ph daun maka , media tersebut dapat digunakan untuk menanam tanaman tersebut .
2. Jika Ph media tidak sama dengan Ph daun bagaimana , yang harus disesuaikan adalah medianya jika Ph diatas 7 maka media ditambah kapur / gamping , jika dibawah 5 makan media ditambah unsur arang atau phospor
3. dicek ulang agar menyamakan unsur Ph media dan Ph daun
4. Selamat bercocok tanam ,nantinya semua tanaman sudah bisa anda tanam !!

Cara menanam Singkong dengan hasil maksimal

banyak petani yang belum memahami cara menanam singkong dengan hasil maksimal , oleh karena itu saya berikan tip sebagai berikut :
1. Persiapan lahan
Lahan harus dicangkul dengan sistem tanah digundukan seperti mau menanam cabai tetapi isikan didalam tanah gundukan dengan sampah kering atau rumput atau batang padi yang sudah dipanen atau semua dauan daunan kering apa saja , yang penting sampah daun , maksudnya nanti pada saatnya dapat digunakan sebagai pupuk murah
Buat lajur aliran air diantara gundukan agar air tidak merendam tanah gundukan .
2. Tanam bibit , semua jenis pohon singkong dengan jarak 0,75 Cm , sehingga ada jarak jangan terlalu rapat , dan jangan kebalik batang bibitnya yang tua dibawah
3. rawat selama tunas mulai muncul jangan ada rumput disampingnya agar unsur hara tanaman khusus untuk tanaman singkong
4. jaga agar bibit terpenuhi unsur air tetapi tidak sampai basah terendam
5. Pada umur 4 bulan diberi pupuk kandang tambahan agar lebih maksimal tumbuhnya terutama daun , biarkan tumbuh yang penting unsur sinar matahari maksimal tidak ada tumbuhan yang menghalangi .
6. Umur 10 bulan sampai 1 tahun sudah bisa dipanen dengan hasil luar biasa , buktikan !!